Tolak Pinangan Warga Jerman

Senin, 21 Januari 2008

MARTAPURA- Setelah dipinang seharga Rp3 miliar oleh Lihan, seorang pengusaha di Banjarbaru asal Cindai Alus, Martapura, Banjar, hari ini merupakan kepastian sepakat atau tidak sepakatnya pihak Pambakal Israniansyah dan kawan-kawan untuk melepas intan ‘Putri Malu’.

Setelah Sabtu (19/1) pambakal yang akrab disapa Isra, beserta kawan-kawannya, urung melaksanakan perundingan untuk membahas tawaran Lihan, rencana yang tertunda ini akan diagendakan Senin (21/1). Selanjutnya hasil kesepakatan akan langsung disampaikan ke Lihan yang kini dengan santainya menunggu jawaban dari pihak ‘Putri Malu’.


Jika jadi dibeli, maka Lihan akan menjadi bagian dari sejarah penemuan intan terbesar di Asia saat ini. Jika belum berjodoh, maka episode pinangan tehadap Putri Malu masih akan bergulir.
Lihan yang ditemui di kediamannya, di Cindai Alus, Martapura, mengaku, tidak begitu tegang. Ia santai saja menunggu hasil kesepakatan yang dilakukan para pemilik intan tersebut.
“Biasa-biasa saja,” ujarnya ringkas.
Meski tidak tahu persis bagaimana kualitas ‘Putri Malu’, Lihan juga mengaku senang jika intan seberat 200 karat itu berjodoh dengannya.
“Kita tidak terlalu mempermasalahkan kualitasnya. Keringanan hati yang membuat kita berani menawar Rp3 miliar. Selain itu, yang jelas kita senang jika menjadi bagian dari penemuan intan terbesar yang juga merupakan salah satu sejarah. Sayang kalau orang luar yang membeli,” kata owner PT Tri Abadi Mandiri itu.
Pria pemilik usaha jual beli intan, penyewaan helikopter di Jakarta, serta sederet usaha lainnya, yang mengaku total omzetnya seratus miliar rupiah per bulan, menambahkan, baru saja mendapat e-mail dari rekannya di Jerman. Intinya, segala sesuatu sudah siap jika ‘Putri Malu’ memang hendak diolah di Jerman.
“Barusan saya terima e-mailnya. Ya…, kalau memang jadi dibeli, intan akan segera kita kirim dan dipotong di sana,” katanya.
Sementara itu, Andreas, seorang warga negara Jerman yang sempat menyatakan ketertarikan atas ‘Putri Malu’, secara diam-diam mengunjungi Desa Antaraku, Pengaron, Banjar, dengan ditemani Kepala Kantor Pariwisata Seni dan Budaya Kabupaten Banjar, Effani Redhan, Sabtu (19/1) sore.
Mereka kemudian bertemu langsung dengan Pambakal Isra di rumahnya. Dalam kedatangan secara diam-diam itu, Andreas sempat memeriksa kualitas ‘Putri Malu’. Serta mendengar pula penawaran tertinggi terhadap intan itu yang mencapai Rp3 miliar.
Namun meski jauh-jauh datang dari Jerman, tak ada kesepakatan apa-apa yang dihasilkan dalam pertemuan yang berlangsung relatif singkat terssebut.
Effani yang dihubungi Minggu (20/1) siang untuk dikonfirmasi mengenai hasil kunjungan ke Desa Antaraku, handphone nomor GSM yang dihubungi tidak diangkat. Sedangkan nomor CDMA yang dituju, justru istrinya yang mengangkat.
“Maaf, bapak sedang tidur,” ujar istri Effani saat itu.
Begitu pula saat dihubungi malam harinya, baik nomor GSM maupun nomor handphone CDMA yang dihubungi, keduanya tidak aktif lagi.
Sementara, nomor handphone Pambakal Isra yang dihubungi pada malam tadi, sedang tidak aktif. Diketahui, Desa Antaraku merupakan salah satu daerah yang sulit untuk menerima signal handphone. ofy

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s