10 Oknum Brimob Hajar Pelangsir Kayu

  • Dituduh Mengadu Domba TNI-Brimob

Dilaporkan: Anjar Wulandari

Minggu, 17 Februari 2008

TANJUNG – Muhammad Arkani alias Utut (31) tergolek tak berdaya di ranjang kamar bedah Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) H Badaruddin, Tanjung, setelah dihajar 10 oknum Berimob di halaman Mapolres Tabalong, Sabtu (16/2).
Utut, yang sehari-harinya bekerja sebagai pelansir kayu, ini menderita luka yang sangat serius di bagian wajahnya. Bibir atasnya bengkak, begitu juga dengan mata kirinya. Telinga kirinya pun mengalami gangguan.
Tidak terima dengan penganiayaan tersebut, Utut, warga Desa Lumbang Kecamatan Muara Uya Kabupaten Tabalong, yang dibantu kawan- kawannya sesama pengayuan berniat menempuh jalur hukum.
“Semua oknum aparat yang terlibat juga akan diadukan ke Propam Polda Kalsel agar diproses,” kata Muhammad Irwandi alias Andi, rekan sekaligus Ketua Koperasi Pengayuan Tabalong, ketika ditemui di rumah sakit.
Menurut Andi, peristiwa ini sudah kesekian kali terjadi. “Semuanya pasti karena masalah jalur. Kalau dulu-dulu tidak sampai seperti ini karena saya cepat datang melerai,” ujarnya.
Informasi diperoleh, sebelum peristiwa itu terjadi, Sabtu dinihari, Utut bersama 15 rekannya bertolak dari Desa Palapi Kecamatan Muara Uya menuju pangkalan kayu di Wantilan, Desa Sulingan Kecamatan Tanjung.
Untuk bisa cepat di tempat tersebut sekaligus juga menyiasati patroli aparat, Utut cs secara beriringan membawa kayu dengan menggunakan gerobak yang ditarik sepeda motor. Sebab, sejak illegal logging ditertibkan, mereka semakin kesulitan membawa dan menjual kayu dalam jumlah besar.
Pukul 05.30 Wita, tepat di pertigaan sirkuit Marido di Gunung Batu, Utut cs yang tengah berjalan beriringan di Jalan Trans Kalimantan menuju ke wantilan dicegat di “pos jalur” oleh empat oknum Brimob berpakaian preman. Selain meminta jatah Rp10 ribu per gerobak, oknum Brimob tersebut juga mencari Utut.
“Mana Utut, mana Utut,” ucap oknum tersebut yang ditirukan seorang rekan Utut.
“Lalu saya bilang Utut ada di belakang. Mereka lalu meminta kami pergi saja. Tapi kami tetap menemani Utut,” tambah rekan Utut.
Karena teman-teman Utut tidak mau pergi, keempat oknum Brimob lantas mengiringi rombongan gerobak kayu. Sesampai di pertigaan Jalan Tanjung Selatan, mereka dipisahkan. Utut seorang diri digiring menuju ke Mapolres Tabalong.
Setelah memarkir gerobak berisi muatan kayu meranti, sekitar pukul 06.00 Wita, Utut pun langsung diinterogasi sejumlah oknum aparat di halaman Mapolres. Utut tidak cuma diinterogasi, tapi juga jadikan sansak hidup oleh sepuluh oknum aparat yang diantaranya mengenakan seragam polisi dan bersepatu lars hitam.
“Saya dihajar. Mereka tidak memberi kesempatan saya membela diri,” ujar Utut.
Utut sendiri mengaku tidak mengerti dengan tuduhan yang dialamatkan pada dirinya. “Saya dituduh telah mengadu domba TNI dengan Brimob. Saya tidak mengerti,” ucap Utut sesekali merintih menahan sakit.
Akibat pukulan bertubi-tubi itu, darah segar keluar dari wajah, hidung dan telinga Utut. Utut juga sulit bernafas karena darah memenuhi hidung dan mulutnya. “Saya juga sempat pingsan,” ujarnya.
Apakah punya salah pribadi dengan oknum Brimob? Utut langsung menggelengkan kepalanya.
“Saya tidak pernah punya masalah. Tapi memang, tadi mereka bilang kurang saat saya kasih Rp10 ribu. Lalu saya jawab Pak Wakapolres bilang kalau ada aparat yang meminta uang di jalur laporkan ke beliau. Mereka marah dan bilang tidak takut. Mereka malah mengancam menangkap saya,” ujarnya.
Pos “Jalur”
Untuk membawa dan menjual kayu ke pangkalan kayu di Wantilan, Desa Sulingan Kecamatan Tanjung tidaklah mudah. Para pelansir kayu harus kucing-kucingan dengan aparat. Kalau ingin aman mereka harus membayar uang jalur.
Uang jalur merupakan istilah pungutan tidak resmi yang sering dilakukan sejumlah oknum aparat, baik dari TNI maupun Polisi. Sedangkan tempat mangkal oknum saat meminta uang jalur biasa disebut pos jalur.
Sepanjang Muara Uya sampai Tanjung setidaknya ada enam pos jalur, dua di Muara Uya, satu di Wirang, satu di dekat sirkuit Marido, satu di Simpang Guru Danau dan satu di pos kompi Hikun.
Muhammad Irwandi, ketua Koperasi Pengayuan Tabalong, menuturkan, pengayu bergerobak rata-rata harus mengeluarkan uang Rp100 ribu setiap turun untuk membayar uang jalur. “Kadang ada oknum minta lebih,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, proses hukum terhadap oknum Brimob tersebut belum berjalan. Kapolres Tabalong AKBP Endro Suharsono ketika dihubungi via SMS mengaku sedang kuliah di Banjarmasin. “Masalah pemukulan itu baru diselesaikan Danton Brimob Tanjung,” ujarnya.
Danton Brimob Tanjung, Made ketika dihubungi via telepon menolak berkomentar dengan alasan masih melakukan penyelidikan.
“Saya belum tahu (anak buah saya atau bukan), untuk itu kita masih selidiki. Sebab mereka kan berpakaian preman. Untuk lebih jelasnya silakan ke Pak Heri di Banjarmasin,” katanya.
Pjs Dansat Brimobda Kalsel, AKBP Heri Heriyadi, ketika dihubungi via Hp mengaku belum mendapat laporan atas kasus tersebut.
“Namun untuk mengetahui kronologis sebenarnya, kita langsung meluncur ke Tanjung sore ini (Sabtu, red),” ucap perwira menengah yang juga menjabat sebagai Kadensus 88.

Iklan

1 Komentar

  1. aparat yang main hakim sendiri sebaiknya ditindak sesuai dengan hukum yang berlaku, saya sebagai warga desa lumbang kecamatan muara uya merasa malu pada aparat yang kerjaannya seperti nggak punya gaji bulanan.


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s