“Berat, Cari Uang Sudah Susah”

  • Kala Wong cilik kena razia sungai

Kamis, 28 Februari 2008

Dilaporkan: Irfani Rahman

SENYUM seolah dipaksakan Udin ketika berada ketika di Mako Polair Polda Kalsel, Rabu (27/2) sore. Ia duduk berjejer bersama puluhan pria lainnya dengan posisi kedua tangan di paha.

“Tidak bawa surat juragan, izin angkut serta lampung timbul,” ungkapnya ketika ditanya Metro Banjar tentang pelanggaran yang dilakukan dirinya sehingga disidang.

Ya, Udin bersama puluhan pria berpakaian lusuh, sedang menjalani sidang tindak pidana ringan (Tipiring) karena melanggar Undang-Undang Pelayaran. Mereka baru terjaring razia yang dilancarkan jajaran Polair Polda Kalsel. Informasi diperoleh, dijerat UU Pelayaran pasal 57 ayat (2) UU No21 Tahun 1992 tentang pelayaran.
Menurut warga transmigrasi ini, dirinya dari daerah Kayu Tangi mengangkut genteng untuk dibawa ke wilayah Kecamatan Wanayara, Batola.
“Upahnya cuma Rp50 ribu. Tinggal Rp30 ribu saja karena dipakai untuk makan,” bebernya ketika ditanya tentang hasil kerjaannya membawa barang.
Malah ketika disinggung kemungkinan bakal terkena denda Rp50 ribu lebih, raut wajah pria setengah baya ini sedikit berubah.
“Uang aja tinggal Rp30 ribu,” cetusnya seraya mengalihkan pandangan ke Hakim PN Banjarmasin yang menyidangkan dirinya serta jurangan kelotok lain.
Setelah dapat giliran disidangkan, Udin akhirnya dikenakan denda Rp105 ribu. Sebenarnya, ia mempunyai surat-surat tersebut. Namun karena cepat-cepat, lalu tertinggal di rumah.
Tak hanya Udin yang harus merasa getir ketika disidangkan. Ansyah, seorang pemilik kelotok, juga harus menyerahkan uang Rp105 ribu pada sidang tersebut. Ia diharuskan membayar karena tak memiliki surat atau dokumen kepemilikan kelotok.
“Tadi mau ke pehumaaan saja,” ungkapnya seraya mengatakan baru satu kali ini kena ’tilang’ petugas di perairan.
Ia pun berkisah, setelah dirazia petugas, dirinya berusaha mencari tahu bagaimana membuat surat-surat tersebut.
“Berat. Cari uang sudah ngalih,” ungkapnya sambil menyerahkan dua lembar uang Rp50 ribu serta selembar Rp5.000.
Ijum lain lagi. Pria agak gempal ini malah terlihat agak bingung. Ia juga ditilang karena tak memiliki surat-surat.
“Uang ada Rp75 ribu saja. Terpaksa pinjam teman,” sebutnya sembari mengeluarkan uang dari kantong.
Tak hanya para wong cilik itu saja yang gelagapan di tilang. Seorang anak buah kapal (ABK) TB Danda Jaya pun kebingungan. Soalnya, ia ditilang karena tak memiliki Surat Keterangan Kecakapan (SKK) ditilang Rp1 juta. Kepada hakim, dirinya mengaku memang membawa tugboat untuk menbeli makanan dan tidak jauh.
“Saya hanya ABK. Punya uang Rp400 ribu saja,” ungkapnya di hadapan petugas saat akan bayar denda.
Terpisah, pada sidang Rabu (27/2) sore tersebut, hakim Dwi SH yang didampingi panitera, Yusuf, tidak hanya menilang, tapi juga menasehati agar para motoris melengkapi surat-surat kepemilikan dari pada nantinya kena tilang lagi.
Hal serupa dilakukan Direktur Polair Polda, AKBP H Sunaryo MAP ANT III. Menurutnya, persyaratan yang ada, yakni sebuah perahu atau kelotok harus dilengkapi pelampung dan lainnya.

Iklan

Tinggalkan komentar

Belum ada komentar.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s